Sabtu, 28 Januari 2012

MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT



Penulis: Jamrin Abubakar

Penerbit: Ladang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan Pertama, 2012

Sumber foto sampul: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah

Desain sampul dan isi: Sunlie Thomas Alexander

Hak cipta pada penulis: Dilarang memperbanyak atau menyalin, menfotokopy, merekam (audio visual) sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penulis buku ini. (UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA)

Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Abubakar, Jamrin, Misteri Negeri Seribu Megalit, 2012

halaman 14 x 20 cm





PENGANTAR PENULIS



BUKU ini merupakan kumpulan tulisan yang sumbernya dari surat kabar, majalah, sebagian dari buku yang sudah terbit dan catatan dalam blog. Kemudian penulis revisi kembali tanpa mengurangi tulisan aslinya dengan harapan bisa menambah khazanah pustaka daerah Sulawesi Tengah.

Karena itu tidaklah satu tema saja, melainkan beragam catatan perjalanan dari berbagai tempat dan obyek wisata dari perspektif budaya. Sulawesi Tengah memiliki eksotisme yang tak semua negeri memilikinya, berupa mahakarya purbakala zaman megalitikum. Sebaran megalit di Tanah Lore, Kabupaten Poso dan sekitarnya merupakan anugrah yang tak ternilai. Warisan para leluhur yang pernah mendiami dataran tinggi Sulawesi Tengah ribuan tahun Sebelum Masehi menyisakan legenda masa lampau di masa kini.

Sebaran megalit dengan berbagai bentuk dan ukuran itu bagai misteri yang menarik untuk kunjungan wisata dan tempat penelitian (para arkeolog sedang melakukan penelitian). Kekayaan yang dimiliki Tanah Lore itu pula penulis namai “negeri seribu megalit.”

Di antara tulisan dalam buku mengenai negeri seribu megalit ini, hanyalah sebagian kecil dari kekayaan yang terpendam di Sulawesi Tengah. Selain itu penulis mendeskripsikan sepintas danau-danau dataran tinggi di Tanah Lore Lindu yang masih memiliki hubungan dengan bagian peradaban manusia zaman purbakala.

Buku ini tentunya masih jauh dari harapan yang memuaskan pembaca, karena apa yang diungkapkan di sini merupakan pandangan terbatas. Bisa jadi penulis lain atau pembaca memiliki pengalaman yang berbeda dari suatu obyek yang sama. Tetapi itulah upaya seorang wartawan biasa yang masih minim pengalaman dalam penjelajahan, cuma saja demi cinta di antara khazanah Indonesia, patutlah kita berbagi pengalaman.
Penerbitan buku ini tidak lepas dari dukungan, dorongan dan bantuan banyak pihak sehingga bisa sampai di tangan pembaca. Untuk itu saya ucapkan terima kasih pada sahabat, relasi dan semua orang yang telah memberi spirit dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini.



Jamrin Abubakar
Penulis


DAFTAR ISI


Pengantar Penulis
1. Mencari Patung Megalitik di Behoa
2. Asal Usul Tadulako Yang Sebenarnya
3. Menhir Palindo Kisah Pahlawan Dalam Mitos Tanah Lore
4. Tanah Lore Negeri Seribu Megalit
5. Mpolenda Yang Terkutuk
6. Tinggalan Purbakala di Kampung Vatunonju
7. Eksotis Danau Pegunungan Lore Lindu
8. Danau Poso, Sogili dan Legenda
9. Sulawesi Tengah, Pusat Kebudayaan Austronesia

Sumber Tulisan
Riwayat Singkat Penulis

Jumat, 27 Januari 2012

Segera Terbit: Buku Berbagai Sisi Guru Tua



Nuansa Poso, Kamis 19 Januari 2012


PALU-Bagi warga Sulawesi Tengah nama SIS Aljufri (1889-1969)yang akrab disapa Guru Tua sangat familiar, namun secara dekat tidak semua orang tahu secara mendetail tentang sosok ketokohannya. Karena itulah Jamrin Abubakar menulis sebuah buku berjudul GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN.

Buku tersebut dalam waktu dekat akan terbit yang saat ini dalam proses cetak dan diterbitkan Ladang Pustaka Yogyakarta. “Buku ini ditulis dengan pendekatan jurnalistik, sangat mudah dipahami dengan keberagaman sisi tentang Guru Tua yang bersumber langsung dari anak, menantu dan murdid-muridnya,” kata Jamrin Abubakar selaku penulis.

Kata penulis, salah satu keistimewaan dalam buku tentang Guru Tua, adalah adanya kesaksian dalam bentuk wawancara atau pendapat yang diungkapkan penulis secara langsung dari murid-murid Guru Tua, namun saat ini sudah almarhum. “Di situlah keistimewaannya, ada banyak di antara murid-murid langsung yang menarik didengarkan ceritanya. Namun telah berpulang, sehingga buku ini tidak akan sama dengan buku-buku Guru Tua yang sudah ada, terutama soal narasumber yang tidak semua penulis pernah melakukan wawancara,” ungkap Jamrin Abubakar.

Guru Tua dengan nama lengkap Al-Alimul Allamah Al-Habib Sayed Idrus bin Salim Aldjufri (SIS Aldjufri) dikenal sebagai tokoh ulama kharismatik, pendiri Alkhairaat lembaga pendidikan terbesar dan tersebar di Sulawesi Tengah hingga ke berbagai kawasan Timur Indonesia. Kata Jamrin bicara Guru Tua ada banyak sisi bukan saja ulama yang bergerak di bidang pendidikan yang selama ini dikenal, melainkan juga sastrawan, pedagang, pecinta sepak bola, diplomat dan lainnya. Pada zamannya, Guru Tua yang melahirkan murid-murid dalam perjalanannya banyak yang menjadi ulama besar di Sulawesi Tengah.

Mereka itu pula menjadi “penyambung lidah” kearifan sang guru, memiliki kenangan manis yang cukup berkesan. Namun saat ini murid-muridnya sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah karena usia tua. Kenangan dan kisah yang pernah mereka jalani dan kemudia dikisahkan menjadi catatan menarik untuk diabadikan pada masa kini, sekecil apapun bagi penulis tetaplah bermakna.

Melalui dalam buku ini, penulis tampilkan riwayat Guru Tua yang telah menjadi legenda, walaupun sebetulnya sudah banyak yang menulisnya di media massa lokal. Terutama pada saat peringatan wafatnya setiap 12 Syawal tahun berjalan. Cuma saja yang membedakan, buku ini berisi wawancara tentang kisah Guru Tua dari muridnya yang paling dekat, seperti KH. Idrus Al Habsy dan KH. Nawawian Abdullah (keduanya sudah almarhum). Sejumlah pengalaman beberapa murid dan pengagumnya ditampilkan kembali dalam buku ini yang sebelumnya dipublikasikan di Koran Mingguan Alkhairaat (MAL).

Secara ringkas diperkenalkan pula tentang sosok seorang anak Guru Tua yang memimpin WIA (Syarifah Sa’adiah Aldjufri) dan cucu (Habib Saggaf bin Muhammad Adjufri) Guru Tua yang paling menonjol mewarisi sifat kepemimpinan memajukan dunia pendidikan. Bagi penulis tentu ada sisi-sisi lain yang menarik untuk ditulis kembali dalam bentuk buku yang mungkin terlewatkan bagi penulis lain.(nafi)

Senin, 10 Oktober 2011

Draf Buku DIPLOMASI BUDAYA KALEDO DAN KELOR (Wisata Kuliner Kota Palu)

RENCANA ISI BUKU


Pengantar Dari Penulis

Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu

1. To Kaili dan Eksotisme Kota Palu Yang Menginspirasi
2. Kuliner To Kaili dalam Kebudayaan
3. Uta Dada dan Uta Kelo: Yang Bersantan dan Yang
Magis
4. Lezatnya “Makan Tulang” di Kota Palu
5. Diplomasi Budaya dengan Kaledo
6. Asal Mula Kaledo (Sebuah Cerita Rakyat)
7. Kemana Mencari Kaledo di Kota Palu?

Daftar Pustaka

Riwayat Singkat Penulis






DASAR PEMIKIRAN



SETIAP daerah memiliki kekayaan kuliner yang khas menjadi kebanggaan budaya masing-masing etnis yang tumbuh dan berkembang secara populer, tak terkecuali pada etnis Kaili di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Di antara sejumlah masakan khas, dikenal masakan Uta Dada, Uta Kelo dan paling popular masakan Kaledo selain Uve Mpoi.
Meskipun kaledo sudah lama dikenal masakan khas Kaili, tapi tulisan mengenai kaledo itu sendiri belum banyak ditulis dari aspek budaya. Bertolak dari keprihatinan itu, pada tahun 1999 lalu saya membuat catatan tentang cerita asal mula kaledo.
Ketika itu di tengah masyarakat memang sudah sering terdengar akronim kaledo = Kaki Lembu Donggala. Apakah secara kebetulan saja akronim itu atau tidak? Yang pasti sebutan kaledo telah popular dengan sebutan kaki lembu donggala, selain sebutan masakan khas itu sendiri. Bahan baku paling bagus untuk masakan ini adalah tulang-tulang kaki lembu atau sapi (meskipun dalam perkembangannya semua tulang sapi yang memiliki sisa daging yang menempel dapat dijadikan masakan kaledo). Makan Kaki Lembu Donggala di Palu. Demikian catatan awal saya yang merupakan bagian dari kumpulan tulisan dalam; Mengenal Khazanah Budaya dan Masyarakat Lembah Palu, YKST, 1999.
Penulis ceritakan adanya seorang dermawan yang menyembelih seekor sapi miliknya untuk dibagi-bagikan ke penduduk. Secara kebetulan yang datang lebih awal adalah orang Jawa dan mendapatkan daging yang dijadikan bakso. Orang Makassar menyusul kemudian, sehingga tinggal mendapatkan perut (jeroan) sapi yang akhirnya dijadikan masakan Coto Makassar. Belakangan orang Kaili lebih terlambat, hanya mendapatkan tulang dan kaki sapi. Namun ketika orang Kaili memasak tulang-tulang yang dinamainya kaledo tak kalah lezatnya.
Anekdot itulah yang kemudian dikutip seorang wartawan Harian KOMPAS dalam tulisannya; Menikmati Kaledo Langsung di Pusatnya (2008). Kutipan serupa dilakukan Jafar G. Bua seorang jurnalis Trans TV di Palu dalam sebuah blognya dengan tulisan; Kaledo dan Singkong Rebus (2009). Kutipan demi kutipan kian menyebar di dunia maya, terutama dalam akun facebook.
Berkembangnya usaha kuliner di Kota Palu dalam satu dekade terakhiri, kaledo salah satu menu pavorit. Bahkan sebuah industri mie instan terkenal pernah memproduksi mie rasa Kaledo seperti halnya mie rasa Coto Makassar. Hal itu menunjukkan kaledo diakui sebagai brand yang secara ekonomi sangat menguntungkan bagi pemilik warung. Di satu sisi kaledo menjadi bagian diplomasi budaya yang telah mempengaruhi tata sajian makanan pada warga biasa sampai kalangan pejabat dalam perjamuan resmi.
Menyahuti rasa ingin tahu pembaca tentang kaledo, minimal buku ini bisa memberi pencerahan apresiasi tentang masakan tersebut. Penulis tampilkan pula sebuah fiksi legenda tentang Asal-Mula Kaledo yang berdasarkan imajinasi penulis.
Demikian pengantar penulis pada buku yang diberi judul; Diplomasi Budaya Kaledo dan Kelor. Saran dan masukan pembaca yang lebih baik akan bermanfaat untuk kemajuan penulisan beragam kekayaan kuliner daerah Sulawesi Tengah. Selamat membaca*

FESTIVAL DANAU DAMPELAS TIDAK ADA KEPASTIAN

DONGGALA-Persiapan pelaksanaan Festival Danau Dampelas (FDD) 2011 hingga kini tidak ada kepastian, menyusul belum dilakukannya pembenahan lokasi kegiatan di sekitar Danau Dampelas, Desa Talaga, Kecamatan Damsol. Sebab beberapa kali rencana tersebut kembali ditunda, padahal sebelumnya Kadis Budpar Donggala, Himran Sukara menyatakan FDD akan dilaksanakan pada pertengahan September dari rencana semula Agustus. Disebabkan bertepatan Ramadhan pada bulan Agustus, maka waktunya dijadwalkan pada September.

Namun hingga memasuki bulan Oktober ini sekali lagi tak ada kepastian, sehingga semakin tidak ada kejelasan kegiatan yang teragenda secara baik. Sebuah sumber di Kantor Budpar Donggala sendiri mengakui kalau persiapan FDD tahun ini belum ada kepastian hari pelaksanaannya. Akibat tidak ada kejelasan tersebut, menurut Hapri Ika Poigi seorang akivis seni asal Damsol yang terlibat dalam festival tahun lalu, menyatakan keprihatinan. Sebab tidak adanya agenda yang pasti dalam pelaksanaan event yang terjadwal secara pasti di Donggala, membuat pula tidak adanya penyesuaian dalam jaringan event satu sama lainnya di daerah maupun secara nasional.

“Jangan hanya karena tiba masa tiba akal, kemudian festival dilaksanakan sehingga berdampak pada kualitas yang rendah. Nah, kita sebagai warga Donggala tidak menginginkan kabupaten yang sudah tua ini, tapi event festivalnya tidak jelas dan kurang maksimal hanya karena tidak adanya keseriusan dari pengelola,” kata Hapri Ika Poigi.

Sementara itu juga Camat Damsol M. Arief Panungkul secara terang-terangan menyatakan keprihatinannya. Sebab selama ini tidak ada pembenahan area festival, dan selalu saja mendekati hari kegiatan baru sibuk seperti tahun lalu. “Karena itu sekiranya dilakukan persiapan dengan penganggaran dari Pemkab Donggala dengan membangun panggung kesenian yang permanen. Sebab acara tahun lalu panggungnya hanya darurat dan tidak maksimal,” kata Arief Panungkul.

Bahkan kata Arief kalau memang akan menjadikan FDD sebagai agenda ahunan Kabupaten Donggala, maka arena kegiatan harus betul-betul dilengkapi fasilitasnya. Terutama pemasangan instalasi listrik yang tetap, sebab selama ini setiap ada kegiatan hanya memakai instalasi dari rumah warga dan kurang mencukupi.
Karena itu pula, Hapri Poigi meminta Bupati Donggala lewat Disbudpar agar betul-betul menangani FDD secara professional, sehingga kabupaten yang kaya dengan potensi wisatanya, tapi tidak tertangani dengan baik. Termasuk tidak terkelolanya festival yang pasti dan tetap penjadwalannya dalam kalender event nasional, sehingga bisa terkoneksi dengan jaringan festival daerah lain. (JAMRIN AB)